Berjalan lurus di tanah yang retak,
angin menampar, debu menyergap,
tapi kaki ini tak boleh goyah,
meski lelah merayap perlahan.
Kanan-kiri penuh godaan,
jalur pendek yang lebih nyaman,
bisikan manis mengajak singgah,
tapi nurani menahan langkah.
Lurus itu sepi,
lurus itu sendiri,
kadang bertanya dalam hati,
"Haruskah aku berhenti?"
Tapi jika aku menyerah,
untuk apa semua luka?
Jika aku berbelok,
apakah bahagia benar ada?
Maka kutarik napas panjang,
meski letih, meski resah,
aku tetap melangkah,
dengan hati yang tetap tegak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar