Entah mengapa,
aku dan kamu terasa seperti dua garis sejajar—
tenang, rapi, tak pernah saling bersinggungan.
Kita berjalan dalam diam,
melihat satu sama lain dari jarak aman
yang tak pernah benar-benar berkurang.
Meski ditarik sejauh apa pun,
meski waktu memanjang tanpa henti,
kita tetap berdampingan
tanpa pernah menemukan titik temu.
Namun anehnya,
aku tidak menyesal menjadi garis yang berjalan di sampingmu.
Ada kenyamanan yang halus,
ada hangat yang tak pernah kita akui,
ada deg-degan kecil yang hanya muncul
ketika jarak di antara kita terasa terlalu dekat
namun tetap tak tersentuh.
Mungkin kau bukan takdirku,
dan aku bukan milikmu—
kita hanya dua kisah
yang diberi kesempatan berjalan sejajar
agar kita tahu
bahwa tidak semua pertemuan harus berakhir bersama.
Kadang, cukup dengan begini:
kamu di sana, aku di sini,
dan dunia membiarkan kita
menyimpan satu sama lain
di tempat paling sunyi dalam hati.