Sepi

Dan tiba-tiba duniaku jadi sepi.
Hari ku jadi sunyi,
langit pun enggan berseri,
sejak kau pergi tanpa pamit lagi.

Bayanganmu masih berbisik di dinding,
namamu menyisa dalam hembus angin.
Tak ada tawa, tak ada peluk,
hanya hening yang memeluk.

Kupanggil namamu dalam diam,
tapi gema pun tak sudi menjawab salam.
Seakan semesta ikut menjauh,
menyisakan aku, dan rindu yang runtuh.

Untuk diriku yang sedang belajar memaafkan,, 🙂

Aku tahu kamu capek.
Capek jadi baik terus. Capek ngasih tanpa banyak yang ngerti.
Aku tahu kamu pernah kecewa, pernah ngerasa sendiri dalam kebaikan yang kamu pilih sendiri.

Dan aku tahu kamu pernah jatuh…
Pernah ikut arus, pernah menyesal karena gak jadi dirimu yang seutuhnya.
Tapi kamu juga manusia.
Manusia yang bisa lelah, bisa goyah, bisa salah langkah.

Tapi tahu gak?
Kamu gak jahat.
Kamu cuma lelah, dan itu bukan dosa.

Kamu gak harus terus sempurna untuk bisa jadi orang baik.
Kamu tetap berharga, bahkan saat kamu masih belajar memperbaiki diri.
Kesalahan kamu di masa lalu bukan cermin utuh siapa kamu sekarang.
Itu hanya satu bab kecil dari cerita besar yang sedang kamu susun—cerita tentang tumbuh, tentang sadar, tentang jadi lebih baik tanpa kehilangan kelembutan hatimu.

Jadi…
Hari ini, izinkan dirimu bernafas.
Peluk semua rasa sesal itu, lalu lepaskan pelan-pelan.
Karena kamu pantas diberi ruang,
untuk berubah, untuk tenang,
dan untuk memaafkan dirimu sendiri.

Dengan penuh sayang,
Aku.