Rhido Allah

Lalu apa yang kamu cari?
Jika ridho Allah adalah tujuanmu,
maka carilah Ia di sepertiga malam—
di sunyi yang mengerti setiap helaan napasmu,
di sujud yang memeluk letihmu,
di antara doa-doa yang tak pernah kamu ucap penuh
tapi selalu dipahami oleh-Nya,,

Ibadahmu menyelinap di sela-sela kesibukan,
berkecamuk dengan hidup yang tak pernah berhenti menuntut,
namun hatimu tetap teguh mencari cahaya.

Dan lihatlah…
dalam setiap senyum orang yang pernah kamu bantu,
ada jejak kebaikanmu yang tak pernah kamu sadari,
ada pahala yang berjalan diam-diam,
menemanimu bahkan ketika kamu merasa sendirian.

Maka tenanglah—
yang kamu cari sebenarnya sudah lama mendekat,
menunggu kamu kembali dengan hati yang jujur.

Hampa

Aku tak tahu lagi trauma apa yang harus kucoba hilangkan.
Seolah aku sudah terlalu terbiasa menerima apa pun yang datang,
bahkan saat itu adalah hal terburuk sekalipun.

Aku tak pernah benar-benar berani untuk bahagia,
namun aku masih takut menghadapi rasa sakit.
Hatiku bisa merasakan begitu banyak,
tapi tetap saja terasa kosong di dalamnya.

Apa sebenarnya yang kuinginkan?
Apa yang kucari setiap kali kakiku melangkah?
Semua terasa hampa,
seakan aku berjalan tanpa arah
meski dunia terus memaksaku untuk bertahan.

Namun di antara kehampaan itu, ada bisikan kecil yang tak pernah padam,
seolah memintaku untuk berhenti sejenak…
untuk melihat bahwa aku masih hidup, masih bernapas,
masih punya ruang untuk sembuh.

Kadang aku merasa rapuh,
tapi mungkin kerapuhan itu juga yang membuatku tetap manusia.
Aku berjalan pelan, bukan karena lemah,
tapi karena aku sedang belajar memahami diriku sendiri.

Jika suatu hari aku menemukan jawaban,
mungkin itu bukan dari dunia,
melainkan dari diriku yang akhirnya berani
mengulurkan tangan pada cahaya yang menunggu di kejauhan.

Dan sampai saat itu tiba,
aku akan terus berjalan,
meski dengan hati yang bergetar,
karena aku tahu…
bahkan kehampaan pun bisa menjadi awal dari sesuatu.