Tak selalu hitam dan putih

Hidup tak selalu hitam putih,
ada abu-abu di setiap sudut,
kadang benar terasa salah,
kadang salah tampak lurus.

Ada saat kita harus memilih,
antara hati atau logika,
antara prinsip atau realita,
dan tak semua punya jawabnya.

Tak semua jujur dihargai,
tak semua salah dimurkai,
kadang yang diam lebih menang,
kadang yang lantang justru tenggelam.

Tapi meski dunia tak selalu jelas,
aku tetap berjalan di jalanku,
meski berat, meski sendiri,
biarlah lurus jadi jalanku sampai akhir.
sebab kebenaran bukan sekadar warna,
tapi cahaya yang kutemukan di dalam jiwa.


Jalan lurus itu

Berjalan lurus di tanah yang retak,
angin menampar, debu menyergap,
tapi kaki ini tak boleh goyah,
meski lelah merayap perlahan.

Kanan-kiri penuh godaan,
jalur pendek yang lebih nyaman,
bisikan manis mengajak singgah,
tapi nurani menahan langkah.

Lurus itu sepi,
lurus itu sendiri,
kadang bertanya dalam hati,
"Haruskah aku berhenti?"

Tapi jika aku menyerah,
untuk apa semua luka?
Jika aku berbelok,
apakah bahagia benar ada?

Maka kutarik napas panjang,
meski letih, meski resah,
aku tetap melangkah,
dengan hati yang tetap tegak.

Enggan terikat

Aku adalah angin,
Berhembus bebas tanpa tali,
Menari di antara ranting,
Tanpa janji, tanpa sandaran.

Aku takut pada ikatan,
Seperti burung takut pada sangkar,
Seperti ombak enggan tunduk pada karang,
Aku tak ingin terjebak dalam genggaman.

Bukan karena aku tak mampu mencinta,
Tapi karena cinta sering menjelma rantai,
Menjerat pelan, tak terasa,
Hingga aku lupa cara terbang.

Biarkan aku mencintai dari kejauhan,
Tanpa harus dimiliki, tanpa harus memiliki,
Karena bagi jiwa yang terbiasa melayang,
Rumah bukanlah tempat, melainkan kebebasan.

Tak Ingin Kembali

Ada jalan yang pernah kutempuh,
Tapaknya masih terasa di kaki,
Namun angin di sana selalu berat,
Dan langitnya tak pernah benar-benar biru.

Aku pernah bertahan,
Menanam sabar di tanah yang gersang,
Tapi tak ada yang tumbuh,
Hanya lelah yang makin menjalar.

Kini saat langkahku menjauh,
Ada suara memanggil untuk kembali,
Tapi aku tahu,
Kembali berarti mengikatkan diri pada luka yang sama.

Aku tak ingin terjebak di tempat yang sama,
Di mana sayapku hanya pajangan,
Dan mimpi-mimpiku adalah bayang,
Selalu ada, tapi tak pernah terjangkau.

Biarkan aku berjalan,
Mencari angin yang lebih ringan,
Langit yang lebih lapang,
Dan tanah di mana aku bisa benar-benar tumbuh.