Pencarian

Tiba-tiba aku merasa seperti,  aku kehilangan diriku dalam waktu yang lama.  

aku merasa ada yang salah,, 
apa yang ku cari?
harta ataukah cinta?  

lalu tiba-tiba aku menemukan diriku yang telah lama hilang. ternyata yang selama ini ku cari adalah aku.  ya' diriku sendiri.  Diriku yang mencintai Allah tanpa tapi.  Diriku yang mencintai segala kesederhanaan.  Diriku yang baik hati.  

Kemana saja aku selama ini?  Aku sibuk menjadi orang lain yang tak bisa kumengerti.  Mengejar harta dan duniawi yang tak pernah ingin kumiliki.  

Hal terindah di hidup ini adalah ketika kita bisa menemukan nikmatnya iman.  Merasa cukup atas segala rizki yang Allah berikan.  
Bagaimana bisa kita merasakan sakit padahal akhir dari kehidupan kita sendiri adalah kematian yang menyakitkan.  

Rasanya kepalaku masih kosong,  aku masih belum sadar sepenuhnya tapi setidaknya aku menemukan suatu titik dimana aku bisa memulai segalanya dari awal.  

Aku masih akan belajar lagi.  

Takut,,,

Setelah 6 Tahun lamanya aku mencoba untuk ngehubungin istri temen aku.  

Foto wisuda aku sempet kebawa sama temen aku itu, setiap kali di tanyain temen aku itu susah dihubungi.  Udah gitu kejadiannya udah lama banget padahal kurasa foto itu masuk kategori penting. 

Yaudah aku ngeinbox istrinya aja :') 
Soalnya entah kenapa aku fikir kalau aku ngehubungi dia takut terjadi fitnah.  Dia kan laki-laki.  

Aku takut sih fotonya udah gak ada.  Tapi aku juga ngerasa emang gak mungkin ada mungkin udah dibuang sama mereka karena mungkin dimata mereka itu sampah dan udah lama juga gak ada kejelasan dari aku.  Kenapa aku baru sekarang ngehubungi?  
Dari dulu aku sibuk kerja jadi aku lupa.  Pas sekali-kalinya aku inget eh dia gak ngasih alamat jelasnya.  

Aku inget2 lupa mulu juga dan tiap kali mau ngehubungi dia kayak susah dihubungi.  

Ini aku deg degan sama jawaban istrinya itu.  Aku berharap masih ada.  Tapi kalaupun udah gak ada aku bisa apa.  

Padahal dari awal yang salah itu temen aku itu.  Kenapa coba dia ngambil2 foto yang bukan hak dia?  Kenapa bisa ada di dia coba sampe susah dihubungi..  Aku pengen banget marah sama dia.  Tapi juga gak tau mesti marah atau enggak.  Aku gak tau.  :(

Tujuan hidup

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat . 
Covid 19 tahun ini bener-bener bikin aku sadar . 
Entah kenapa seketika aku jadi suka bertemu orang-orang . 
Aku suka di perhatikan banyak orang dan jadi pusat perhatian. 

Andai aku bisa . Aku ingin sekali lihat orang bahagia. Tapi dunia ini terlalu kejam untuk kata "bahagia" jadi aku mulai berfikir. 

"sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat" 
Membuat orang lain bahagia itu kata yang terlalu berat karena kenyataan nya aku sendiri sulit merasa bahagia dan tidak yakin apa sepanjang hidup aku akan bahagia. Maka aku sampai di kesimpulan. 
Aku ingin bisa bermanfaat untuk orang-orang sekelilingku . 
Ketika aku dan orang yang ku sayangi tidak bahagia aku ingin bisa mentolelir rasaku bahwa tujuanku bukanlah untuk membawa kebahagian tapi untuk bisa jadi manusia yang bermanfaat dengan sesamanya. 
Lalu aku tidak menyalahkan diriku atau siapapapun jika suatu ketika ku temui diriku tak mampu berbuat banyak. 

Aku ingin jadi manusia yang baik dan bermanfaat untuk sesamanya. 
Aku ingin begitu. 

blokir

Jadi aku tuh punya akun fb fake .. 
Aku lumayan punya banyak teman di akun itu. 
Suatu hari aku memutuskan buat menonaktifkan sementara tapi yang terjadi akun fb aku benar-benar hilang dan terblokir dari fb. :') 

Lalu tidak lama dari kejadian itu nomer hape aku juga tiba-tiba diblokir pihak WA :') 
 
Di awal tahun baru ini aku kehilangan akun WA dan akun Fb kesayangan aku. :') 

Aku gak terbiasa sih sama hal yang baru-baru. Aku gak suka kalau harus ganti nomer :') 

Sampai saat ini aku belum memutuskan untuk buat yang baru lagi. :') 
Maaf aku kalo mikir mesti agak lama. Apalagi kalau perkara yang baru-baru. . :') 

Hari itu (These days)

Tiba-tiba aku teringat hari itu. 

Lagit begitu terik.  Matahari terasa begitu panas lebih dari biasanya.  

Sabtu tengah hari.  Ponselku berdering lagi. Ku hentikan motorku di tepian jalan.  Ku lihat Beberapa sms dan panggilan tak terjawab.  
"aku udah sampe nih, di depan gerbang citra raya" ujarnya dalam sebuah pesan singkat. 
"Tunggu aku lagi otw" balasku. Selang beberapa detik dia langsung membalas.
"ya,  aku tunggu.  Nanti kita makan yah" jawabnya.  
Aku balas "ya" . Ku masukan hp ke saku jaketku dan langsung memacu gas menuju lokasi. 

Namanya "Bedi" sudah lebih dari setahun aku berkirim pesan dengannya.  Temanku bilang dia orang baik. Ibadahnya bagus dan sudah punya pekerjaan walau masih bisa dibilang belum mapan. Temanku tahu kalau aku tak pandai masalah percintaan. Jadi dia memberikan kontak hape ku padanya, barangkali kami cocok. Aku tahu niat temanku pasti baik. Jadi setelah menimbang cukup lama akhirnya aku memutuskan untuk bertemu dengannya. 
Setahun ini kami tak sering berkirim pesan. Tak begitu akrab walau hanya sekedar chating atau smsan. Tapi entah mengapa ketika dia mengajak untuk bertemu aku meng iyakan. Ku fikir setelahnya kami bisa taarufan. Aku benar-benar tidak tahu cara mainnya. Jadi ku ikuti saja kemauanya. "blind date" entah bisa dibilang demikian atau bukan. 

Aku tiba di lokasi. Cuacanya benar-benar tak mampu kutolelir. Sangat panas. Mungkin karena siang hari juga aku baru pulang dari bekerja setengah hari. Haus, lapar, aku belum istirahat sama sekali. Kutengok kaca spionku. Wajahku pucat. Mungkin karena kelelahan belum istirahat. Bibirku kering pasti karena haus yang aku rasakan. Pipiku begitu merah seperti kepiting rebus karena kepanasan. Lalu jaket yang aku gunakan pun tidak stylist sama sekali. Aku merasa amat kacau. Apa begini saja boleh.  Apa dia akan mau menerimaku apa adanya? Ah' aku pasti di tolak. Berjuta insecure bermunculan di fikiranku. 
Tapi tekadku sudah bulat. Aku akan bertemu dengannya. Kalaupun aku tertolak toh sedari awal kami pun tidak begitu akrab. Kurasa pasti tidak akan terlalu sakit rasanya. 

Hape ku berdering. Ini dia. Pasti dia. Ujarku dalam hati. Ku buka pesan masuk.
"Dimana?" katanya 
"aku udah nyampe, kamu dimana" jawabku
"aku pake jaket merah" jawabnya 
Ku tengok sekeliling indomarket, 
Pandanganku terarah pada satu arah. "Dia". 
Ku kendarai motorku sedikit mendekatinya. 
"Eliz yah?" sapa nya.
"ya" jawabku sambil senyum. 
"Bedi" katanya sembari menawarkan jabat tangan
"Eliz" balasku sembari menangkupkan kedua tanganku ke dada berusaha membalas jabat tangan namun secara syar'i. 

Kami berbincang sedikit. 
"udah lama nunggu?" ucapku 
"gak kok aku baru sampe" balasnya. 
"baru pulang kerja?" tanyanya 
"ya, kita udah ketemu kan, terus mau apa?" what the hell entah apa yg ada di otak ku saat itu, aku tidak tahu harus bilang apa. Belum pernah pacaran. Tidak pandai berkata-kata. 
"ketik,, ketik ,," dia sibuk dengan hape nya. 
"eh' aku di tungguin sodara di rumah, aku mau langsung pulang deh" ucapnya tiba-tiba. 
"Deg, aku tahu kemana arah situasi ini" 
"oh ' iya, hehe" balasku sambil tersenyum. 
Setelah pamit dia pun pergi dengan motornya. 

Aku sedih. Hatiku sakit. Padahal dia hanya orang yang ku fikir akan jadi jodohku. Baru pemikiranku. Kami bahkan tidak akrab walau hanya sekedar berkirim pesan. 
Seketika airmataku menetes. Kenapa ini, ada apa, situasi macam apa. Bukannya sedari awal aku sudah berkompromi dengan hatiku bahwa meski tertolak aku pasti akan baik-baik saja. Lagipula kami hanya teman chating biasa. Jauh dari kata akrab apalagi mesra. 

Kututup kaca helm ku dan kembali memacu motor maticku. 

Disaksikan kan somay dan kang es boba pinggir jalan aku di tolak. 
Di tinggal di pinggir jalan indomarket tanpa ada kepastian. 
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah sms nya terus terbayang di kepalaku. 
"nanti kita makan yah" begitu isi pesannya tapi kenyataannya setelah bertemu dia langsung pulang dan bilang sibuk ada urusan. 

Demikianlah salah satu perjalan cintaku.

Well' life must goon. Perjalanan masih panjang, Aku masih akan terus berjuang menemukan cinta sejatiku.  

(niatnya ini cerita untuk projek komik/webto*n ku ) entahlah bagus atau enggak . :v 







Hari ini

Hari ini aku bercermin setelah beberapa hari aku tidak bercermin.  
Kulihat wajahku cantik.  Aku suka bentuk kedua mataku yang sipit.  Hidungku yang tidak mancung dan bibirku yang memang sudah serasi di ciptakan Allah.  
Kenapa selama ini aku insecure tidak percaya diri cenderung rendah diri.  
Bila ada yang memuji aku selalu menolak mereka dan meyakini kalo aku punya paras yang burik.  
Selalu begitu.  Padahal Allah menciptakan ku begitu sempurnanya.
Tubuhku lengkap tanpa kurang satu apapun.  

Ternyata yang mengerikan itu bukan ketika orang lain menghakimi kalau kita buruk dan lain-lain.  Tapi ketika diri kita sendiri menghakimi betapa buruknya dan menjijikannya kita. 
Kalau kita sendiri saja tidak menghargai diri sendiri bagaimana orang lain mau menghargai kita? 



Tidak bisa dengan materi

Karena (kepuasan,  kebahagiaan, kesenangan) hati tidak bisa dibeli dengan materi..  Begitu katanya..  

Benerin Ahlak

Lalu aku sampai pada kesimpulan.  
Sedari awal aku emang dasar gak da akhlak :'v 
Menjijikan,  dll 
Satu-satunya cara supaya bisa lurus kembali adalah memperbaiki ahlak aku yang rusak ini..  T^T

Mesti lebih banyak sabar lagi.  Berenti emosian dan suka marah-marah ngambek gak jelas. Berenti kekanak-kanakan. Berenti teriak-teriak kalo gak di dengar sama orang.  Berenti over thinking sama orang lain.  Berenti di banyak hal yang jelek-jelek.  Iri , dengki,  hasud, kang fitnah (naudzubillah) .. Selama ini aku bersikap sok gak kenal sama orang-orang jaga jarak dan lain-lain karena gak suka di manfaatkan.  Gak suka yang ribet-ribet.  Tapi ternyata hidup ini emang harus ribet.  Dari hidup ribet itulah kita belajar sabar dan menghargai kalau semua mesti ada prosesnya.  
T^T

sabar

Akhir-akhir ini makin sadar.  Curhat di sosmed gak pernah menyelesaikan masalah.  Menggerutu dan mengeluhpun gak menyelesaikan masalah apa-apa.  

Terus bingung pun rasanya percuma. Karena sia-sia memikirkan sesuatu yang seolah tidak ada jalan keluarnya.  

Satu-satunya jalan memang cuma sholat dan sabar.  
Seperti yg pernah ku dengar dalam Al-qur'an jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu.   

Berubah

Semakin hari aku menyadari rasanya rasa empati dan simpatiku semakin berkurang.  

Aku tidak merasakan sakit lagi ketika ada yang hilang dihidupku.  
Ketika kucingku mati atau bahkan aku bisa bayangkan bila orangtuaku mati aku mungkin tidak akan sedih dan merasa sakit.  

Kenapa aku jadi seperti ini.  
Aku merasa sakit dan ingin mati.  Apa orang normal merasakan hal yang sama?  
Aku benci semua hal tentang segalanya.  Tentang orang-orang disekitarku dan tentang aku.  
Aku benci. 

Menghilang

Kalau saja bisa aku ingin menghilang dari posisiku yang sekarang.  
Tanpa ada yang manggil "eliz" 
Tanpa kenal siapa-siapa.  Aku ingin hilang saja.  Lepas dari semua perkara yang menjeratku saat ini.  

Aku tidak tahu harus hidup untuk siapa.  Aku benci orangtua ku.  Aku benci teman-temanku. Aku benci bahkan bila mereka semua mengasihaniku aku benci mereka.  Aku benci diriku sendiri.  

Aku ingin menghilang saja.  Bila saja bisa. 

Teman

Katanya salah satu cara agar punya teman adalah dengan menjadi teman.  

Entah quotes darimana.  Dari dulu pun selalu bingung sih apa punya teman itu penting?  Ketika kita anggap mereka penting terus ternyata mereka gak anggap kita penting. Bukannya rasanya sakit?  

Membuka hati dan membuka diri.  Kalau aku yang anti sosial ini membuka hati apa akan baik-baik saja? 
Setelah aku ingat-ingat aku selalu merasa baik-baik saja tanpa mereka.  
Entahlah.  Hidup ini makin lama makin terasa aneh.